Sejarah Terbentuknya TNI di Bangka Belitung, Catatan Kelam Tentara Tionghoa Di Pulau Bangka (Bagian Tiga)

Oleh: Ichsan Mokoginta Dasin

MEMASUKI bulan Oktober 1945 keamanan Pulau Bangka semakin mengkhawatirkan. Kaki tangan Belanda mulai berdatangan. Maksud kedatangan mereka memang belum jelas dan membuat rakyat merasa ciriga. Tapi tidak demikian halnya dengan warga keturunan, berita kedatangan kaki tangan Belanda ini disambut antusias dan gembira.

Di Pangkalpinang warga keturunan membentuk organisasi yang dipersenjatai bernama Tentara Keamanan Tionghoa (TKT) atau disebut juga dengan istilah Po On Ton yang dipimpin oleh Tjang Tjin Hon, Lie Tian Po dan Tan A Hin. Hampir setiap hari TKT dengan terang-terangan melakukan latihan baris berbaris. Maksud pembentukan TKT ini tidak diketahui dengan jelas. Bahkan atas nama KNI atau Kepala Residen, Masyarif Datuk Bandaharo Lelo, tidak mengakui keberadaan TKT. (Ichsan Mokoginta Dasin dan Dody Hendriyanto: 2008).

Kehadiran TKT menengarai munculnya dua golongan di Pangkalpinang ketika itu yakni : Indonesia dan Tionghoa, yang pro kemerdekaan dan pro Belanda. Akibatnya, perkelahian keduanya nyaris terjadi setiap hari, bahkan hingga terjadi pertumpahan darah.

Makin hari kecurigaan rakyat pribumi terhadap TKT makin menjadi. Selain gencar melakukan latihan, orang-orang TKT juga sering melakukan patroli menggunakan kapal motor di seputar Perairan Pulau Bangka.

Berdasarkan catatan kurir BKR bernama M Ali Banyu, kapal motor anggota TKT tersebut sering berkeliaran di seputar Teluk Kelabat dan pulau-pulau kecil lainnya. Menurut Ali Banyu, anggota TKT tersebut sengaja menyelidiki tempat-tempat strategis untuk kepentingan pendaratan tentara Belanda lewat jalur laut, dan sekaligus membaca kekuatan pasukan BKR yang menjaga perairan Pulau Bangka.

Selain TKT, keberadaan sejumlah orang Ambon di Bangka juga dicurigai sebagai kaki tangan Belanda. Bangka khususnya Pangkalpinang ketika itu sedang dalam ancaman dan banyak bercokol antek-antek Belanda dengan berbagai kedok. Bahkan Saleh Akhmad yang nota bene orang pemerintahan (KNI) dicurigai juga sebagai kaki tangan Belanda.

Selain memanfaatkan kekuatan dari dalam (TKT dan orang-orang Ambon) Belanda juga menyusun strategi untuk menguasai kembali Bangka Belitung dengan selubung RAPWI, NICA, AMACAB dan KNIL yang berlindung mengatasnamakan sekutu (Inggris).

Pihak sekutu, khususnya Inggris, memiliki hubungan dekat dengan Belanda. Inggris juga mengakui kedaulatan Belanda atas tanah Indonesia. Tak heran pula jika Inggris selalu melibatkan diri membantu Belanda untuk merebut kembali Indonesia. (AH Nasution: 1978). Begitupun wilayah Bangka Belitung, juga menjadi prioritas untuk direbut kembali oleh Belanda karena Bangka Belitung letaknya sangat menguntungkan dari sisi geopolitik dan geostrategis serta Bangka adalah daerah yang kaya akan hasil tambang Timah, dan Timah menjadi komoditas penting pasca Perang Dunia Kedua. Belanda percaya, bahwa tambang timah di Pulau Bangka akan bisa dioperasionalkan kembali dan akan membawa banyak keuntungan bagi negaranya, terutama untuk menutupi biaya perang Dunia Kedua, oleh sebab itu ketika kedatangan tentara sekutu di Pulau Bangka, di samping membonceng tentara NICA, Belanda juga mengikutsertakan tenaga-tenaga administrasi dan tenaga-tenaga teknik penambangan timah. (Akhmad Elvian, Trasberita.com: 7 Agustus 2023).

Kecurigaan akan adanya antek-antek Belanda dengan berbagai kedoknya di Pulau Bangka, juga tersirat dari pemberitahuan yang disampaikan oleh Masyarif kepada para kepala pemerintah di seluruh Bangka. Pemberitahuan yang disampaikan melalui pesan kawat tertanggal 11 Oktober 1945 yang dikutip dari catatan Abdurrahman Jr mantan anggota Syu Sangi Kai, berbunyi sebagai berikut:

“Gubernur sumatera mengawatkan hari ini kepada saya titik hendaklah bersama-sama dengan lain-lain badan dan kantor memberikan penerangan tentang nica sebagai berikut titik dua pertama nica hanya badan administrasi dan oleh rakyat tidak akan dianggap sebagai pemerintahnya titik kedua membujuk orang-orang Indonesia membantu usahanya untuk pegawai dari bekas tahanan titik ketiga mengeluarkan uang titik keempat mempergunakan palang merah internasional rapwi sebagai cabang sebagai sarung untuk mengembangkan politiknya titik terima hal-hal tersebut diadakan jalan-jalan negara Indonesia titik semestinya mereka harus bertindak sebagai tamu titik activitetnya Nica sekarang boleh dipentingkan dengan praktik dari Nazi Jerman yang memadai consulate dan gezagschappen sebagai barang untuk politik penjajahnya titik hal ini tidak bisa didiamkan begitu saja titik perang dunia ini bermaksud membasmi Nazi dan praktiknya yang buruk koma padahal sekarang ternyata Belanda yang mengakui dirinya democratie memakai praktinya Nazi titik harap diperhatikan di daerah tuan”
RESIDEN

Dengan tersiarnya pemberitahuan Masyarif tersebut seluruh barisan pertahanan (BKR, API dan GRI) yang telah terbentuk di daerah-daerah memperketat penjagaan. Kewaspadaan makin ditingkatkan karena musuh bisa saja menyusup dan masuk secara tiba-tiba.
Pulau Bangka sebagaimana wilayah Indonesia lainnya khususnya di Sumatera, sekitar November 1945, dalam situasi genting, dan berhadapan dengan empat kekuatan lawan yang setiap saat dapat melakukan serangan. Keempat kekuatan tersebut yakni pertama, tentara Inggris boncengan Belanda, kedua Tentara Jepang, ketiga Belanda dan antek-anteknya yakni TKT dan orang-orang Ambon serta rakyat pribumi yang berkhianat menyokong imperialisme. (Edi Saputra: 1978).

Khusus para TKT ini oleh Belanda dibekali dengan senjata-senjata mutakhir dan diberi latihan militer. Mereka secara terang-terangan membuat kekacauan. Seperti di Pangkalpinang, TKT pimpinan Bong Djun Sen melakukan penyerangan. Dalam baku tembak tersebut seorang rakyat bernama Djamhir bin Budjang warga Paritlalang meninggal dunia. Puluhan lainnya baik di kubu TKT, rakyat dan BKR mengalami luka-luka.
Aksi serupa juga terjadi di Kampung Dul. Kampung Dul diserang dari semua sudut, namun yang justru banyak jatuh korban adalah dari kubu TKT. Penyerangan oleh TKT di Kampung Dul ini hingga merembes ke Kampung Celuak.
Di Mentok serangan TKT terjadi di Kampung Rambat. Sedangkan di Belinyu, tepatnya di Parit 40, Parit 11, Parit 3 dan Remudung, TKT berhadapan dengan Tentara Gaib yang dipimpin oleh Bakar Besar dan dengan mudah berhasil dilumpuhkan. Sedangkan di Stasiun Listrik VI Lumut, rombongan BKR dipimpin Suardi Marsam dan A Malik Akum yang saat itu sedang berdinas dihadang oleh pasukan TKT. Baku tembak pun tak bisa dihindari. Akibatnya dua orang TKT tewas dan tiga orang TKT lainnya luka-luka. Karena terdesak, TKT lari ke hutan.
Sementara di Payung, Abang Tjit Opsichter DPU gugur ditembak TKT dan dimakamkan di Payung. Di Toboali, baku tembak antara TKT dengan pasukan BKR, API, GRI dan Polisi juga terjadi. Akibatnya sejumlah orang TKT ada yang tewas, demikian juga dari kubu pribumi.
Konflik pribumi dengan TKT terus berlanjut hingga Belanda menduduki Pulau Bangka. Bahkan di antaranya ada yang terang-terangan berpihak kepada Belanda.
Konflik TKT dengan pribumi dan sokongan orang-orang Tionghoa terhadap Belanda, merupakan salah satu catatan hitam sekaligus ujian bagi kehidupan bertoleransi di Pulau Bangka ketika itu. Namun demikian, tidak semua warga keturunan yang setuju dengan tindakan yang diambil oleh TKT. Bahkan ada beberapa tokoh Tionghoa di Bangka Belitung yang berjuang gigih mengusir penjajah. Seperti sumbangsih Bun Ci Toni Wen dan kawan-kawan yang memberi dukungan besar terhadap perjuangan merebut kemerdekaan. Atau Ko Su Sui yang memberikan dukungan besar terhadap perjuangan Depati Amir 1812-1851. (Bersambung)

====
Ichsan Mokoginta Dasin adalah seorang penulis sekaligus jurnalis yang pernah bekerja di sejumlah media, baik cetak maupun online (1991 – sekarang). Ia sudah menulis sejumlah buku di antaranya biografi sejumlah tokoh, sastra dan budaya, serta buku sejarah perjuangan di Pulau Bangka (Palagan 12: Api Juang Rakyat Bangka). Selain konsen menulis persoalan budaya dan sastra, sesekali kelahiran Pangkalpinang, 6 Juli 1971 ini, juga ‘berceloteh’ soal politik lokal dan kritik sosial. Ia juga kerap diundang menjadi pembicara dan juri dalam ‘hajatan’ sastra, budaya dan sejarah tingkat kabupaten dan Provinsi Bangka Belitung. Saat ini pemilik nama pena Amang Ikak ini menjabat sebagai Redaktur Eksekutif Trasberita.com, sekaligus pendiri media online tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *