Mahasiswi Jepang Ini Akui Babel Sangat Harmonis

BELINYU, KLIKSUMATRA.COM–Kazuyo Futaesaku, salah seorang mahasiswi Program Doktoral Fakultas Asian and African Area Studies, Kyoto University Japan, mengaku senang mendapat kesempatan melakukan penelitian di Bangka Belitung.

Ditemui saat melakukan penelitian di Masyarakat Adat Mapur, Dusun Air Abik Desa Gunung Muda Kecamatan Belinyu, Kazuyo mengungkapkan
jika kehidupan beragama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat harmonis.

“Dari artikel yang saya baca baik sumber lokal maupun dari luar, memberi informasi jika kehidupan beragama di Bangka Belitung sangat harmonis,” ujar Kazuyo, Minggu (9/7/2023).

Kazuyo yang melakukan penelitian terkait penyelesaian disertasi program doktoral tersebut mengaku sudah beberapa kali mengunjungi Bangka Belitung.

“Setelah beberapa kali berkunjung ke sini, saya dapatkan jika harmonisasi dan toleransi di sini sangat baik sekali,” katanya.

Kazuyo yang saat melakukan kunjungan di Dusun Air Abik didampingi Tim Meneroka Bangka Belitung yang dikoordinator oleh sejarawan dan budayawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian, serta Pamong Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ali Usman, juga mengatakan selain harmonis, kehidupan beragama dan etnik di Bangka Belitung juga cukup unik.

“Kehidupan beragama di sini sungguh-sungguh baik dan juga sangat unik. Beda dengan tempat lainnya,” tandas Kazuyo.

Di tempat yang sama, sejarawan sekaligus budayawan Bangka Belitung Akhmad Elvian mengatakan, harmonisasi dan toleransi kehidupan beragama di Dusun Air Abik memiliki keunikan tersendiri dan kemungkinan hanya dapat ditemukan di wilayah ini.

“Kehidupan masyarakat di Air Abik terdiri dari dua kelompok  masyarakat yakni kelompok kepercayaan dan kelompok beragama (Islam, Kristen dan Koghucu). Dua kelompok ini diikat oleh adat yang sangat kuat sehingga terjadi harmonisasi dan toleransi yang tinggi,” ujar Elvian.
Elvian mencontohkan, dalam melaksanakan perayaan hari besar keagamaan, masing-masing umat beragama maupun kelompok kepercayaan  bebas merayakan hari besar keagamaan dan kepercayaan sesuai yang dianut.
“Dalam perayaan keagamaan ini, mereka saling mendukung. Misalnya saat perayaan hari besar Islam, maka masyarakat agama lain dan kelompok kepercayaan juga ikut dalam prosesi perayaan. Ini kan menarik karena terjadi dalam satu kampung yang mungkin hanya ada satu-satunya di Bangka Belitung,” ungkap Elvian.
Lebih lanjut dikatakan Elvian, keragaman kehidupan beragama di Air Abik kemudian diikat oleh pertalian adat yang kuat dan unik.

“Masyarakat yang beragama bebas melakukan tradisi keagamaan mereka. Begitu juga dengan kelompok kepercayaan, bebas melakukan ritualnya. Perbedaan ini kemudian disatukan dalam suatu prosesi adat yang dinamakan Nujuh Jerami. Semua kelompok (kelompok beragama dan kelompok kepercayaan)  bersatu untuk merayakannya. Inilah yang sebenarnya paling tepat disebut dengan Hari Raya, karena dikerjakan atau dirayakan oleh semua orang  dalam wilayah tersebut dan tidak disekat oleh agama maupun kepercayaan,” jelas Elvian. (*)

Editor: Ichsan Mokoginta Dasin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *